Jumat, 22 April 2022

tetap harmonis bersama pasangan hidup

         

        Rasa kecewa & persoalan timbul karena seseorang/sesuatu hal yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi (harapan). Misalnya: Secara tidak sadar terkadang kita mendambakan pasangan yang ideal, yg mengayomi, setia, romantis, pengertian, adil. Tanpa sadar bahwa kitapun kurang ideal. Coba tulis pria/wanita ideal seperti apa, berikan tanda dan nilai pada setiap poin yang masuk kriteria. Nilai lah sendiri dan minta pasangan dan orang dekat untuk menilai... Penasaran nggak?

        Ekspektasi/harapan boleh setinggi langit, namun perlu diketahui bahwa ekspektasi vs realita seringkali berbanding terbalik. Apapun masalahnya, bisa ekonomi, pekerjaan, impian masa depan, bahkan sekedar sesekali ingin pasangan bawakan pizza eh yang datang nasi goreng.

ekspektasilah yang realistis, yang dapat dicapai berdua, sepaham, sepakat, dan sehati. komunikasikan ekspektasi/harapan kita ke pasangan. tanyakan apakah hal itu dapat dicapai, tanyakan apakah mampu dia wujudkan. jika tidak, maka kita wajib menurunkan ekspektasi kita.

biasa dalam problematika rumah tangga diantaranya

- ekonomi

- komunikasi

- anak

- pekerjaan rumah

- seksual



EKONOMI

        Hampir smua orang mengalami hal yang sama, bukan hanya koluarga kita. Lalu apa yang harus dipermasalahkan, sebaiknya sama2 berpikir mencari solusi dan bukan saling menuntut. Lakukanlah pekerjaan sebagai bentuk rasa syukur dan bentuk terima kasih atas nafas yang sudah Allah berikan dengan cuma-cuma, sehingga bekerja tidak menjadi beban dan tuntutan. Baik bekerja di luar rumah maupun hanya sebagai ibu rumah tangga. Tubuh boleh lelah dan beristirahat. Namun hati harus tetap bersemangat dan optimis.

 

Komunikasi

        Banyak orang tidak menyadari bahwa teknik berkomunikasi perlu di kembangkan dan dilatih. Contoh : intonasi, reaksi saat mendengar hal yang tidak sesuai harapan, sikap tubuh saat merasa tidak nyaman atas ungkapan pasangan, dll. Sesungguhnya dengan komunikasi yang baik maka hasil yang didapatkan bisa mendekati yang diharapkan dan meminimalisasi miskomunikasi.

        Komunikasi antara pasangan satu dan lainnya bisa saja berbeda, maka perlu saling mendengarkan pendapat bagaimana cara berkomunikasi satu sama lain. Menghargai apa yang pasangan suka dan tidak suka.

 

Anak

            Pengasuhan anak dan mendidik anak adalah tanggung jawab berdua. Tentukan aturan bersama sehingga anak2 tidak kebingungan mengikuti aturan ayah/ibu. Demikian pula anak memerlukan figur kedua orang tuanya sebagai contoh. Kesibukan dan tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi masa kin membuat waktu kebersamaan antara orang dan tua dan anak sangat minim sehingga anak hampir tidak merasakan kasih sayang orang tua dalam kesehariannya. Umumnya dapat bersama hanya di akhir pekan. Dengan kata lain, keseharian dan didikan anak bergantung pada pengasuhnya atau nenek kakeknya atau keluarga dekat dan bukan orang tuanya. Maka muncullah istilah "salah asuhan".


PEKERJAAN RUMAH 

            Bicarakan bagaimana pekerjaan rumah akan dikerjakan. Bagaimana peran pasangan & anak dalam mengambil tugs mengurus rumah karena rumah milik bersama dan demi kenyamanan bersama. Anak2 perlu diberikan arahan dan dilatih untuk mulai peka terhadap sekelilingnya, mulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menutup kembali pintu lemari setelah mengambil barang, merapikan mainannya, dll. Sehingga pada akhirnya mereka mampu melakukan hal yang baik dan benar secara otomatis.


SEKSUAL

            Bukanlah hal yang tabu untuk membicarakan kebutuhan seksual kepada pasangan. Terbuka atas fantasi seksual dan seberapa sering bisa melakukan hubungan intim merupakan salah satu hal penting untuk dibicarakan. Lebih baik saling memuaskan, daripada dipuaskan oleh orang diluar sana selama hal tersebut dilakukan dengan kesepakatan bersama. Tidak masalah siapa yang Memulai lebih dulu dan kendali siapa yang memegang kendali. Tentunya pasangan akan merasakan sensasi yang berbeda.





KOMUNIKASI

Bukan sekedar berbicara (verbal), tetapi juga dengan sikap, ekspresi, tatapan & sentuhan (non verbal). Komunikasi seperti halnya seni, masing2 pasangan memiliki selera dan gaya komunikasi yang berbeda. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan saat berkomunikasi dengan pasangan:

• BERPIKIR POSITIF

- hal ini penting demi menjaga hati agar tidak gundah dan mampu berpikir jernih dalam mencari solusi bersama.

• SALING MEMAHAMI 

- saling suarakan isi hati & saling mendengarkan pendapat. Saat mendengar pendapat pasangan, cobalah membayangkan berada di situasi pasangan untuk dapat memahami kesulitannya.

• SENTUHAN

- pelukan, genggaman tangan, ciuman di pipi/dahi terkadang mampu melukiskan perasaan dukungan dan rasa empati terhadap pasangan. Tidak melulu berhubungan badan.

• PUJIAN 

- semua manusia haus pujian. Begitu juga pasangan, perlu dipuji atas jerih payahnya, atas penampilannya, maupun hal2 kecil yang dilakukannya.

• PANTANG UCAP PISAH

dalam pertengkaran dan keadaan penuh emosi, tetap jaga perkataan jika tidak ingin menyesal. Ucapan adalah doa.

- NEVER SAY NEVER - hindari kata “Tidak akan lagi”, "jangan harap" dan sejenisnya. Sekali aja ada kata ini dalam hati, apalagi diucapkan, akibatnya akan menimbulkan rasa "Ilfil (llang filing)" alias hambar dalam percintaan, Karena hati dan pikiran dipenuhi rasa marah, kecewa dan tidak terlampiaskan. Akibatnya, aktivitas ranjang tidak lagi bergairah. Ujungnya pasti perselingkuhan & perceraian.


•  Allah NO.1 - 

masing2 mendekatkan diri pada TYME sehingga menjadi lebih tenang & dapat berfikir lebih jernih. Percayalah bahwa segala hal dalam kuasaNYa. Ingatlah bahwa segala hal di dunia ini hanya sementara, kekuatiran akan masa depan tidak menambah umur ataupun mempermudah masalah yang ada.

• KOMITMEN - 

pastikan bahwa suami istri memiliki landasan yang sama dalam menjalani pernikahan. Pernikahan tidak cukup hanya atas dasar cinta. Hidup setelah menikah membutuhkan komitmen yang kuat untuk tetap bahagia bersama sampai akhir. Pastikan pasangan memiliki tujuan akhir yang sama.

• KOMUNIKASI

dalam setiap persoalan, bayangkan diri kita di posisi pasangan sehingga bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda. Jadi setidaknya kita bisa memahami keadaan pasangan. Tidak selalu persoalan diselesaikan dengan melihat sisi benar dan salah, terkadang persoalan terjadi karena perbedaan sudut pandang.

• MENGAMPUNI

manusia tak luput dari kesalahan. Sebelum mengampuni orang lain & keadaan yg tidak sesuai harapan, penting lebih dulu untuk berdamai & memaafkan diri sendiri atas apa yg terjadi & mengakui kesalahan. Persoalan muncul dari proses sebab akibat, maka jika ada persoalan maka ada andil dari pihak kita juga.

• KENANGAN UTK ANAK - 

apa yang bisa kita berikan untuk anak2? Harta & kekayaan bisa dicapai dan bahkan bisa musnah seketika. Ilmu & skill dapat dipelajari baik melalui institusi maupun otodidak. Anak2 tidak perduli makan apa hari ini asalkan tidak kelaparan. Tetapi anak2 sangat bahagia ketika dalam keseharian melihat ayah ibu nya bisa bercanda & tertawa bersama mereka.


Fase pernikahan yang akan dialami

  1. SALING KRITIK
  2. SALING MELAWAN
  3. SALING MENGHINA
  4. ORANG KETIGA
  5. EMOSI MELEDAK-LEDAK
  6. SALING MEMAAFKAN


• SALING KRITIK - 

terjadi saat ada tingkah dan kebiasaan pasangan yang tidak sesuai dengan harapan/keinginan kita. Bisa kebiasaan sepele sekedar salah meletakkan barang atau tidak suka nada bicara dan sikap saat di kritik. Pahami bahwa kritikan pasangan adalah kritik membangun agar kita jadi lebih baik.

• SALING MELAWAN - 

rasa tidak suka di kritik menimbulkan perlawanan meskipun di dalam hati. Lama kelamaan tersimpan menjadi peluru yang siap dilontarkan saat ada kesempatan. Bisa juga menjadi tembok diantara pasangan yang membuat salah satunya lari dari keadaan yang tidak nyaman dan memilih untuk tidak membahas persoalan. Tetaplah berpikir jernih, semua hal tetap harus dibicarakan, cari waktu dan momen yang tepat.

• SALING MENGHINA - 

setelah membangun tembok tinggi dan lari dari persoalan, salah satu akan menilai dan melontarkan kata2 untuk saling menyakiti.

• ORANG KETIGA - 

pernikahan yang mulai memasuki fase bosan dan jenuh dengan hubungan yang monoton apalagi kondisi ekonomi yang memicu pertengkaran membuat perasaan tak nyaman dengan pernikahan dan melirik rumput hijau diluar sana. PENTING!!

Disinilah peran KOMITMEN untuk tetap menjaga pernikahan sampai pada tujuan akhir. Hentikan pikiran untuk melangkah lebih jauh mengikuti emosi sesaat yang bisa merusak pernikahan. Jaga kepercayaan pasangan.

• EMOSI MELEDAK-LEDAK -

pekerjaan yang menuntut, anak2 yang sulit diatur, keadaan yang tak sesuai harapan, semuanya muncul dan menimbulkan stress dan menjadi persoalan yang seolah tidak ada habisnya membuat suasana hati naik turn. Emosi menjadi tidak terkendali. Ambil waktu untuk berdiam diri dan berdoa. Yakinlah semua nyaakan berlalu.

• SALING MEMAAFKAN

ketika semua persoalan sudah pernah dilewati bersama, akan ada waktu nya setiap pasangan bisa berdamai dengan diri sendiri, sehingga bisa saling mengerti dan menjaga hati masing2 untuk menerima keadaan.


                Fase tersebut telah dilalui, pada akhirnya pasangan kita adalah yang terbaik, yang paling mengerti diri kita. tidak perlu mencari orang lain dan menghabiskan waktu untuk memulai hubungan dari awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar